GURU TIDAK KREATIF & INOVATIF

Ilustrasi

Jika kita mengingat tentang proses pembelajaran yang dilakukan pada masa 1980`an, yang mana saat itu pendidikan guru SD rata-rata tamatan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Padahal SPG adalah jenjang sekolah yang sama dengan jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun memang seperti itulah kondisi pendidikan pada masa itu. Masih ingat sekali pada masa itu rata-rata guru mengajar dengan gaya konvensional, peralatannya pun sangat sederhana. Para siswa menggunakan buku yang disediakan pemerintah.

Saat itu tidak ada media pembelajaran yang menarik. Saat pelajaran Bahasa Indonesia kami berpedoman pada buku terbitan Balai Pustaka. Dari tahun ke tahun buku bisa diturunkan pada adik kelas. Saat pelajaran matematika alat peraga yang umum digunakan adalah sempoa, penggaris panjang, penggaris segitiga dan penggaris busur. Ketika ada materi tambahan atau pada saat guru tidak masuk ke kelas karena suatu keperluan siswa diharuskan mencatat banyak sekali materi di papan tulis. Beberapa sekolah yang sudah maju mungkin sedikit berbeda. Namun pada masa-masa itu pembelajaran terkesan sangat klasik dan sederhana.

Seiring dengan perkembangan zaman dunia pendidikan pun harus ikut berubah. 

Guru sekarang dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan metode pembelajaran. 

Guru Kreatif adalah guru yang mampu menggunakan berbagai metode, media, model maupun pendekatan untuk mencapai tujuan pembelajaran. 

Umumnya guru kreatif selalu peka terhadap kebutuhan peserta didik. Guru kreatif akan selalu mengembangkan desain pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik. 

Guru Kreatif tidak akan menyampaikan materi pembelajaran saja, TANPA MEMIKIRKAN ; APAKAH MATERI TERSEBUT BISA TERSERAP atau TIDAK oleh Peserta Didik!

Suasana pembelajaran yang dilakukan bersama guru yang kreatif akan terasa menyenangkan dan jauh dari unsur membosankan.

Guru Kreatif akan menciptakan susana belajar mengajar yang kreatif dan menyenangkan sehingga tidak membuat peserta didiknya bosan. Di tangan guru-guru kreatif inilah seharusnya peserta didik mendapat pendidikan. Model, gaya, dan karakter guru kreatif inilah yang membedakan dengan guru lainnya.

Ketika menerapkan cara belajar kreatif, guru harus mengingat falsafah sebagai berikut :

1. Belajar haruslah menyenangkan

2. Anak adalah pribadi yang unik, yang harus dihargai dan disayangi

3. Anak haruslah terlibat secara aktif dalam aktivitas belajar

4. Anak perlu rasa nyaman, tanpa tekanan dan ketegangan

5. Anak harus punya rasa kebanggaan dan punya rasa memiliki

6. Anak harus merasa nyaman dengan guru

7. Guru harus kompeten

8. Anak harus punya kebebasan mendiskusikan masalah secara terbuka dengan semua orang

9. Perlu menumbuhkan kerja sama lebih dari sekedar berkompetisi

10. Pengalaman belajar hendaknya dekat dengan pengalaman nyata.

Untuk menjadi guru kreatif harusnya semua guru bisa menerapkan semua falsafah tersebut. Namun sedikit sekali guru yang bisa dibilang kreatif. 

Inti dari semua proses pembelajaran adalah menggunakan berbagai cara supaya proses belajar mengajar (PBM) terasa menyenangkan.

Salah satu kondisi psikologis yang perlu diciptakan agar subyek didik merasa aman secara psikologis sehingga mampu mengembangkan aspek kognitifnya adalah dengan model pembelajaran yang aktif dimana guru guru menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa sehingga dapat memberi kemungkinan maksimal pada subyek didik untuk berinteraksi edukatif.

Hampir semua guru-guru di Indonesia telah memiliki sertifikat pendidik. Mereka semua bisa dikatakan memiliki kompetensi yang cukup bagus sebagai seorang pendidik. 

Namun kenyataan yang terjadi masih banyak guru-guru yang tidak menunjukkan kreatifitasnya. Proses pembelajaran yang dilakukan masih mewarisi cara belajar di era 1980 an. 

Pada masa serba digital seperti sekarang ini, MASIH ADA GURU YANG MENGAJAR DENGAN MENYURUH SISWA MENYALIN CATATAN DI PAPAN TULIS 😅

Setiap hari siswa hanya diberi ceramah selanjutnya disuruh mengerjakan soal-soal. Bahkan hal itu sudah menjadi rutinitas guru sehari-hari 🤔

Sementara di era yang serba canggih sekarang ini langkah siswa sudah lebih jauh dari sang guru, tanpa disuruh siswa sudah bisa mencari berbagai informasi lewat internet. 

JIKA SISWA SUDAH BISA BERKEMBANG JAUH, APALAH GUNANYA MENYALIN CATATAN DARI PAPAN TULIS 😅

Bukankah waktu yang digunakan untuk menyalin catatan bisa digunakan untuk kegiatan lain yang lebih menyenangkan ?

Misalnya berdiskusi, menganalisi kejadian atau fenomena yang ada hubungannya dengan konsep materi yang diajarkan. Selain itu guru bisa memanfaatkan waktu untuk belajar di luar kelas melakukan pengamatan terhadap berbagai hal. Bukannya mengurung siswa di kelas dengan catatan-catatan yang bisa dicopy atau bahkan sudah ada dalam buku panduan.

Dalam kondisi tertentu metode ceramah masih dibutuhkan. Namun guru sekarang hampir setiap hari melakukan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Siswa hanya bertindak sebagai pendengar pasif yang selalu membayangkan hal-hal yang disampaikan oleh guru sehingga segala yang diterima masih bersifat abstrak. 

Jarang sekali guru yang mendesain pembelajaran kontekstual memperlihatkan kondisi nyata tentang apa yang dipelajari oleh siswa. Pembelajaran kontekstual tidak selalu harus dilakukan di dalam kelas. Melainkan menggunakan media yang menunjang pembelajaran supaya lebih kontekstual

Guru harus merubah konsep berfikir sejalan dengan perubahan paradigma dalam hal pembelajaran. Sudah waktunya guru meninggalkan gaya mengajar dengan model konvensional dan beralih ke paradigma baru yaitu gaya mengajar yang kontekstual. Guru harus bisa berubah dari yang biasa menjadi luar biasa, dari yang primitif menjadi kreatif. Untuk menjadi guru yang kreatif guru harus memiliki sifat inovatif, muda bergaul, mampu membaca karakteristik peserta didik, peduli pada peserta didik, cekatan serta banyak akal.

Beberapa hal sudah di bahas di atas. Namun penting untuk diperhatikan bahwa guru harus terus berinovasi dalam pembelajaran. Guru inovatif cenderung mampu menemukan hal-hal baru yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Proses menemukan berbagai inovasi tersebut karena kepandaian guru dalam mengenali karakteristik peserta didik disesuaikan dengan karakteristik materi/mata pelajaran yang diajarkan. Hal tersebut digunakan oleh guru dalam membuat inovasi pembelajaran yang akan memudahkan setiap siswa untuk memahami pelajaran sehingga peserta didik tidak akan menemui kesulitan belajar.

Sejauh ini masih jarang sekali ditemukan guru-guru yang menemukan inovasi pembelajaran. Lagi-lagi guru cukup menggunakan metode, media, model maupun pendekatan yang itu-itu saja dalam pembelajaran. 

GURU YANG TIDAK MAU KREATIF DAN INOVATIF adalah GURU YANG EGOIS karena tidak pernah mau memikirkan cara untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru yang egois juga tidak mau berfikir dengan pembelajaran yang monoton seperti itu apakah siswa bisa memahami pelajaran yang diberikan .... 


Nur Hamidah ✍️